Investasi di sektor properti di Indonesia tak akan pernah merugi. Yang ada mereka kian menangguk profit sebanding dengan harga properti dan tanah yang juga terus merangkak naik. Bisa dibilang investasi di properti sangat high return. Makanya, tak aneh jika Indonesia menjadi salah satu negara yang RoI-nya (return of investment) begitu tinggi di sektor properti.
Kendati saat ini Indonesia masih terkena imbas dari krisis finansial yang bermula dari krisis sub-prime mortgage di AS –semacam kredit KPR bagi orang yang sebenarnya tidak layak mendapat kredit–, namun bisnis dan investasi di sektor properti masih cukup prospektif di tahun 2009 ini. Apalagi berdasarkan pengalaman, investasi di sektor properti itu cukup tinggi deal-nya di dalam negeri. Sangat jauh berbeda dibanding negara Singapura yang hanya 2-3 persen. Hal ini dikemukaan oleh pengamat properti Panangian Simanungkalit. Makanya menurut dia, investasi di properti merupakan investasi yang paling solid.
“Selama ini, rata-rata RoI di properti sekitar 22-25 persen, ya paling tinggi 25 persen per tahun. Makanya banyak orang yang kaya di sektor properti, karena waktu investasinya tidak terlalu pendek dan modalnya pun tidak terlalu kecil. Cuma ya, kalau mau jual tidak gampang. Perlu diberi sedikit diskon baru banyak yang mengantri,” ungkap Panangian saat menjadi pembicara di seminar NTC.
Menurutnya, krisis saat ini tidak bakal mempengaruhi sektor properti Indonesia. Sebab sepanjang sejarah sejak tahun 1960-an, harga bangunan dan tanah tidak pernah turun. Dalam tempo lima tahun ke depan, proyek-proyek komersial seperti trade center, shopping center, apartemen, business park akan terus dominan. Apalagi untuk kelas rumah di tahun ini akan tetap mengalami peningkatan. Menurutnya, kegiatan properti untuk kelas ini di tahun 2009 bisa mencapai Rp 25 triliun, lebih tinggi dibanding 2007, walaupun sekarang masih ada krisis global.
Memang secara umum untuk kegiatan properti di 2009 bakal mengalami penurunan. Namun harga properti di Indonesia tidak akan turun. Sebagai contoh, Anda beli apartemen pada tahun 2002 ukuran 3x3 meter, senilai 175 juta, dan sekarang ada produk yang sama harganya bisa mencapai 300 juta.
“Jadi sekarang ini waktunya untuk beli properti. Ketika suku bunga turun, demand akan lebih tinggi dari supply, sehingga harga pun akan naik dan penjualan juga ikut naik. Kondisi seperti itu saya prediksi terjadi tahun 2009 setelah penyusunan kabinet. Sementara booming properti sendiri akan terjadi lagi pada tahun 2011,” tutur dia.
Bahkan lebih jauh dia menilai, Indonesia adalah negara yang bakal bebas dari pengaruh krisis di sektor properti. Pasalnya, sebagian besar bank di Indonesia dimiliki –dalam bahasanya– PNS (pengusaha negara Singapura) dan PNM (pengusaha negara Malaysia), yang pengelolaan risikonya cukup canggih.
Ditambah lagi, beberapa pengembang juga memiliki bank yang bisa dimanfaatkan untuk propertinya. “Jadi untung bank kita dikuasi asing selama hampir 10 tahun, makanya kita tak perlu khawatir. Dengan begitu, properti kita tidak terlalu terganggu sebab bank tidak lagi berperan dominan di properti Indonesia, kecuali yang KPR,” katanya sembari tertawa.
Ia menegaskan, tidak ada bisnis yang lebih bagus dibanding properti, terutama untuk kalangan middle class. Jika Anda tidak punya investasi di propert maka akan sulit menjadi orang kaya di Indonesia. Yang ada, kaya sebentar, kemudian miskin juga sebentar. Kalau mau menjadi kaya dalam jangka panjang, ya berinvestasilah di properti.(tmm, dst)
Panangian Simanungkalit